Literasi / Umum

Operasi Penanganan Bencana Longsor Kampung Pasir Kuning, Pasirlangu, Cisarua - Kab. Bandung Barat

DW

Penulis

Dede Ahmad

Diterbitkan

26 January 2026

Header Artikel

Cisarua, 26 Januari 2026 – Sudah dua hari berlalu sejak Sabtu kelam yang mengubah wajah Kampung Pasir Kuning, Desa Pasirlangu. Hari ini, suasana di kaki bukit Kabupaten Bandung Barat masih diselimuti duka dan aroma tanah basah yang pekat.

Anggota kami, Miftahul Mochamad Rafli Rohidin (D-135 LN) dan Handi Irawan (D-136 LN), tiba di lokasi pada hari Minggu (25/01). Setelah registrasi di posko BASARNAS, kami langsung bergabung dengan Regu 5 tim kecil beranggotakan 20 orang yang menjadi bagian dari ribuan relawan di garda depan.

Image

Melawan Lumpur, Menjemput Harapan

Medan di sini benar-benar menguji nyali. Bayangkan, longsoran sejauh 2009 meter menyapu area seluas 30 hektar. Di titik bawah, diameter longsoran melebar hingga hampir 600 meter.

Tugas pertama kami pada hari Minggu kemarin adalah hal yang sangat teknis namun vital: Membuat jalur evakuasi. Lumpur yang sangat tebal mustahil dilewati tanpa pijakan. Kami memanfaatkan reruntuhan bangunan dan potongan bambu, menyusunnya di atas lumpur agar tim evakuasi bisa bergerak.

Sepanjang hari, kami melakukan penyisiran dengan metode manual: menusuk tanah. Jengkal demi jengkal area terdampak kami kelilingi, berharap tongkat kami menemukan tanda-tanda dari 80 warga yang hingga saat ini masih dinyatakan hilang dalam timbunan.

Image

Tragedi yang Tak Memilih Korban

Ada sisi menyedihkan dari demografi wilayah ini. Pasir Kuning awalnya hanyalah area perkebunan. Namun, ikatan kekeluargaan yang kuat membuat banyak anak-anak memutuskan membangun rumah di sana agar bisa dekat dengan orang tua.

Di balik cerita warga, ada kesunyian mencekam di area dekat mahkota longsor. Di sana, proses evakuasi dilakukan secara tertutup karena adanya korban dari rekan-rekan TNI yang sedang berlatih gerilya saat bencana terjadi pada Sabtu dini hari tersebut. Atribut yang ditemukan di lapangan menjadi saksi bisu betapa cepatnya alam bisa merenggut nyawa, tanpa memandang siapa mereka.

Realita di Lapangan: Etika dan Kendala

Menjadi relawan bukan sekadar soal tenaga, tapi juga soal nurani. Kami sangat menyayangkan adanya oknum yang menyalahi etika SAR demi konten media sosial.

  • Live TikTok di tengah evakuasi.

  • Berteriak "Ada Mayat!" di HT tanpa sensor.

  • Menyebar foto korban ke instastory.

Hal-hal seperti ini bukan hanya mengganggu operasi, tapi juga melukai perasaan keluarga korban. Bencana bukan tontonan, dan kami di sini untuk menghormati setiap nyawa, baik yang selamat maupun yang telah tiada.

Selain itu, kemajuan evakuasi saat ini memang dirasa lambat. Kami kekurangan cangkul, mesin alkon untuk menyemprot lumpur, dan alat berat yang bisa menjangkau titik sulit.

Kondisi Penyintas

Warga setempat mengalami trauma psikis yang parah. Saat ini, bantuan mulai berdatangan, namun masih diperlukan koordinasi lebih lanjut agar bantuan yang datang benar-benar sesuai dengan daftar kebutuhan nyata masyarakat, bukan sekadar apa yang dibayangkan oleh orang luar.

Kami dari PPRPG Dewadaru akan tetap di sini, menjaga semangat di antara sisa-sisa lumpur dan doa-doa yang belum putus. Perjuangan masih panjang.



Mari bergerak dengan empati, bekerja dengan etika.

Laporan oleh: Miftahul M. Rafli & Handi Irawan (PPRPG Dewadaru)

"Alam tidak butuh kita untuk bertahan hidup, tapi kitalah yang butuh alam untuk tetap hidup."

Artikel Terkait

Belum ada jejak serupa.

Bagikan Jejak