Pernah nggak sih, pas lagi Diklatsar atau acara resmi di Dewadaru, bulu kuduk agak merinding pas denger lagu Hymne Dewadaru atau Petualang Sejati? Kalau iya, itu wajar. Ternyata, dua lagu itu bukan cuma sekadar barisan lirik dan nada yang lahir dari sekali duduk. Ada keringat, salju Korea, sampai kerinduan yang mendalam di baliknya.
Seperti kata almarhum Kang Yoyo Suryo Sugiharto dalam catatan sejarah yang ia tinggalkan:
"Kedua lagu tersebut terasa jadi wajib ada walau belum diputuskan secara resmi menjadi lagu wajib Dewadaru, selain itu ternyata lagu tersebut punya kisah yang panjang juga, sepanjang perjalanan penciptanya."
Sosok di Balik Layar: Si "Talk Less Do More"
Pelakunya adalah Nuckie Djatnika (D-039-PB), atau yang akrab kita panggil Kent. Sosoknya kalem, jarang bicara, tapi kalau sudah pegang kamera, gitar, atau aplikasi editing, hasilnya nggak main-main. Bayangkan, dia ini finalis Lomba Cipta Lagu di Trans TV dan fotografer kelas dunia. Tapi, meski prestasinya mentereng, buat Kent, Dewadaru tetep "rumah".
Dari Dinginnya Ilsan Sampai Puncak Bukit Korea
Cikal bakal Hymne ini unik banget. Bukan lahir di Gunung Gede atau Papandayan, tapi justru di Korea Selatan. Januari 1995, di sebuah apartemen kecil di kawasan Ilsan City, sekitar 70 km dari Seoul, Kent mulai meramu liriknya saat sedang merantau.
Momen paling ikonik adalah tanggal 20 Februari 1995. Bayangkan, salju lagi tebal-tebalnya. Kent jalan kaki 30 menit ke puncak bukit terdekat, cuma bawa biskuit dan dua kaleng bir Hite buat lawan dingin. Sambil menatap Tower Nam Sam di kejauhan, dia menumpahkan rasa rindunya pada tanah air dan perhimpunan ke dalam secarik kertas. Almarhum Kang Yoyo mencatat momen haru itu:
"Baru pada hari minggu 10 Desember 1995, ia mencoba membuka lagi coretan-coretan lirik Hymne Dewadaru lagi...
"Alam tidak butuh kita untuk bertahan hidup, tapi kitalah yang butuh alam untuk tetap hidup."