Literasi / Basecamp

"Nyawa" di Balik Hymne Dewadaru

DW

Penulis

Dede Ahmad

Diterbitkan

25 January 2026

Header Artikel

Pernah nggak sih, pas lagi Diklatsar atau acara resmi di Dewadaru, bulu kuduk agak merinding pas denger lagu Hymne Dewadaru atau Petualang Sejati? Kalau iya, itu wajar. Ternyata, dua lagu itu bukan cuma sekadar barisan lirik dan nada yang lahir dari sekali duduk. Ada keringat, salju Korea, sampai kerinduan yang mendalam di baliknya.

Seperti kata almarhum Kang Yoyo Suryo Sugiharto dalam catatan sejarah yang ia tinggalkan:

"Kedua lagu tersebut terasa jadi wajib ada walau belum diputuskan secara resmi menjadi lagu wajib Dewadaru, selain itu ternyata lagu tersebut punya kisah yang panjang juga, sepanjang perjalanan penciptanya."


Sosok di Balik Layar: Si "Talk Less Do More"

Image

Pelakunya adalah Nuckie Djatnika (D-039-PB), atau yang akrab kita panggil Kent. Sosoknya kalem, jarang bicara, tapi kalau sudah pegang kamera, gitar, atau aplikasi editing, hasilnya nggak main-main. Bayangkan, dia ini finalis Lomba Cipta Lagu di Trans TV dan fotografer kelas dunia. Tapi, meski prestasinya mentereng, buat Kent, Dewadaru tetep "rumah".


Dari Dinginnya Ilsan Sampai Puncak Bukit Korea

Cikal bakal Hymne ini unik banget. Bukan lahir di Gunung Gede atau Papandayan, tapi justru di Korea Selatan. Januari 1995, di sebuah apartemen kecil di kawasan Ilsan City, sekitar 70 km dari Seoul, Kent mulai meramu liriknya saat sedang merantau.

Momen paling ikonik adalah tanggal 20 Februari 1995. Bayangkan, salju lagi tebal-tebalnya. Kent jalan kaki 30 menit ke puncak bukit terdekat, cuma bawa biskuit dan dua kaleng bir Hite buat lawan dingin. Sambil menatap Tower Nam Sam di kejauhan, dia menumpahkan rasa rindunya pada tanah air dan perhimpunan ke dalam secarik kertas. Almarhum Kang Yoyo mencatat momen haru itu:

"Baru pada hari minggu 10 Desember 1995, ia mencoba membuka lagi coretan-coretan lirik Hymne Dewadaru lagi... 'Saya baru dapat menyempurnakannya…', katanya dengan bangga dan penuh keharuan."

Proses "Masak" yang Perfeksionis

Setelah pulang ke Indonesia tahun 1997, Kent nggak langsung publish. Dia itu perfeksionis banget. Lagu itu sempat "tenggelam" setahun karena Kent merasa harus benar-benar yakin sebelum membagikannya. Sampai akhirnya, niat itu muncul lagi setelah didorong oleh rekan-rekan seperti Aditya Kusuma, Bhayo, dan Bob Buchorie.

Nah, justru di sela-sela proses diskusi panjang untuk menyempurnakan Hymne itulah, muncul ide untuk membuat pendampingnya. Rekan-rekan menyarankan Kent untuk sekalian membuat lagu Mars. Secara tak terduga, lagu Petualang Sejati yang berirama Mars malah lahir lebih "instan". Inspirasinya datang begitu saja saat Kent mendengar cerita seru pendakian Semeru dari Agus Bhanto. Padahal waktu itu, Kent sendiri belum pernah injak kaki di Semeru! Tapi itulah magisnya seorang seniman, "nyawa" pendakiannya bisa melampaui fisiknya.

Sentuhan Akhir yang Manis

Perjalanan panjang dari tahun 1994 itu akhirnya bermuara di studio rekaman pada April 2004. Dengan vokal dari Anggie Ranggani yang suaranya "ngaruh" banget ke jiwa, lagu ini resmi jadi aset berharga buat kita semua. Almarhum Kang Yoyo menutup ceritanya dengan sebuah kalimat yang dalem banget:

“...Kie, teu kudu SK resmi ge da siganamah laguna geus reugreug na hate Kie ..” (Kie, nggak perlu SK resmi juga sepertinya lagunya sudah mantap menetap di hati).

ImageImage

Kini, setiap kali kita menyanyikan lagu-lagu itu, kita nggak cuma bernyanyi. Kita sedang menghargai jejak langkah Kent di salju Korea dan dedikasi almarhum Kang Yoyo yang telah merawat cerita ini untuk kita.

Hatur nuhun, Kang Yoyo. Ceritamu tetap hidup di setiap cangkir kopi kami.

"Alam tidak butuh kita untuk bertahan hidup, tapi kitalah yang butuh alam untuk tetap hidup."

Artikel Terkait

Bagikan Jejak